Pemblokiran Youtube Akal-akal Macam Mana?

by admin

Seorang teman yang baik mengingatkan agar kalau ada waktu saya segera menyelamatkan tulisan-tulisan saya di Multiply, karena cepat atau lambat, situs-situs jaringan sosial di internet akan diblokir pemerintah. Tak lama kemudian, seorang teman di Detikcom memberi tahu, mungkin Sabtu atau Minggu ini, pemblokiran itu akan dimulai.

Saya langsung teringat dua anak kecil yang berisik di sebelah saya di sebuah warnet beberapa hari lalu. Mereka tak henti tertawa-tawa. Ketika saya tengok, ternyata mereka sedang melihat-lihat video-video lucu di YouTube. Saya ikut bahagia menyaksikan wajah-wajah mereka yang sumringah dan terhibur, hanya oleh video-video konyol, dan bukan oleh sinetron-sinetron tolol. Anak-anak itu akan segera kehilangan sumber kegembiraan mereka. Dengan frustrasi mereka akan kembali duduk di ruang tengah rumah mereka, dan terpaksa menonton anak-anak sebaya mereka merata-ratap meneriakkan lirik-lirik patah hati dalam sebuah kontes menyanyi yang penuh drama palsu.

Saya sedih bahwa hidup di negara ini semakin hari kian membosankan dan kehilangan harapan. Saya tidak peduli dengan Fitna, dengan reaksi “umat” dan semua lagu lama itu. Saya hanya peduli dengan kecenderungan pemerintah kita yang selalu menyikapi sebuah persoalan dengan reaktif, parsial, panik, kekanak-kanakan, berlebihan, drama queen. Betapa “tanggap” dan “cekatan” pemerintah kita kalau menghadapi masalah-masalah yang sebenarnya tidak fundamental seperti ini. Sebaliknya, untuk hal-hal yang secara nyata justru mengancam kehidupan masyarakat, seperti bencana alam, wabah penyakit berbahaya, kelaparan, bayi kurang gizi, respon pemerintah lambatnya minta ampun.

Maka, dengan pikiran yang sedikit nakal, dan menggunakan teori konspirasi, kita bisa saja mencurigai bahwa dengan rencana pemblokiran situs-situs yang menjadi alternatif penyebaran film Fitna tersebut, pemerintah sebenarnya sedang mengambil hati (baca: menjilat) umat Islam, demi pemilu 2009. Pasti saya sudah berpikir terlalu jauh, tapi kenapa tidak? Apa pun itu, rencana pemblokiran situs tertentu di internet (termasuk situs-situs porno) ini memang menjengkelkan, ngawur, absurd, kurang kerjaan.

Untunglah, teknologi internet ini bukanlah sesuatu yang bersifat tren sesaat. Melainkan, sebuah keniscayaan sejarah yang tak mungkin dibendung, apalagi dihindari. Kita mungkin bisa lari, tapi tak bisa sembunyi. Baru sehari setelah beredarnya kabar tentang surat dari Depkominfo kepada para penyedia jasa layanan internet (ISP) untuk memblokir YouTube dan kawan-kawannya, tersebar pula posting di berbagai blog yang menginformasikan link-link untuk membuka situs-situs yang diblokir.

Jumlahnya banyak sekali: spysurfing.com, vtunnel.com, browserunblocker.com atau cari aja di Google dengan kata kunci “web based proxy”. Youtube, MySpace, Metacafe, Rapidshare, Multiply, Liveleak dan Themoviefitna.com, lima situs yang akan “dibredel” pemerintah tetap bisa dibuka melalui situs-situs tersebut. Tiba-tiba saya ingin terteriak-teriak, melonjak-lonjak saking senangnya. Bukan senang karena akan tetap bisa nge-blog dan mengakses situs-situs jaringan sosial tersebut.

Saya senang lebih karena semua ini benar-benar menunjukkan betapa gagapnya pemerintah kita menghadapi teknologi internet, dan mudah-mudahan ini membuat mereka sadar, terbuka matanya, bahwa segala upaya untuk mengembalikan masyarakat ke zaman batu, adalah sesuatu yang –meminjam terminologi orang beriman– melanggar “sunatullah” dan oleh karenanya sudah pasti akan gagal. Atau, setidaknya akan menghadapi banyak sekali perlawanan. Sejumlah ISP yang memblokir YouTube misalnya, sedini ini langsung menghadapi tuntutan hukum dari para pelanggan perusahaan.

Pemblokiran itu dinilai sewenang-wenang, semborono dan tentu saja merugikan sebab banyak perusahaan yang memanfaatkan YouTube untuk melakukan tes produk, tayang kreativitas, riset selera dan segmentasi pasar. Duh, apakah departemen sebesar dan sepenting Depkominfo tidak tahu hal-hal semacam ini? Ini kan sama saja tidak tahu kalau di sawah itu selain ada tikus juga ada padi, sehingga membasmi tikus dengan membakar seluruh sawah akan membuat kita kehilangan padinya juga?

Benar-benar tolol! Tolol! Tolooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooool!!! dan saya tetep bisa akses karena saya tidak tolol!!!